Pusat Unggulan IPTEK Nutrasetikal, Pusat Penelitan Biosains dan Bioteknologi (PUIPT Nutrasetikal) ITB bekerja sama dengan Universiti Malaysia Terengganu (UMT) menyelenggarakan seminar daring internasional pertama dengan topik Nutraceuticals for Human Health: Academic, Community, and Industrial Perspective pada Sabtu, 26 September 2020 (Gambar 1). Seminar yang dihadiri oleh sekitar 156 peserta ini dipandu oleh Husna Nugrahapraja, Ph.D. sebagai moderator, dan diisi oleh beberapa narasumber ekspertis yang berkaitan dengan topik nutrasetikal baik dari pihak akademisi maupun industri, yaitu Dr. Maria Immaculata Iwo, Apt. (Sekolah Farmasi, ITB), Prof. Dr. Fadzilah Adibah Abdul Majid (Institute of Marine Biotechnology, UMT), dan Andi Prazos, M.M. (Direktur Produksi dan Rantai Pasok, PT Kimia Farma, Tbk.). Acara ini dimulai dengan sambutan dari Ketua PPBB – ITB (Dr. Muhammad Yusuf Abduh) dan Direktur Institute of Marine Biotechnology UMT (Prof. Dr. Yeong Yik Sung). Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Yusuf Abduh memperkenalkan profil PPBB–ITB secara singkat, beliau juga menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk memperkenalkan komunitas internasional yang mengembangkan natural produk dan potensi kolaborasi antar universitas dan industri untuk mengembangkan produk nutraceutical. Dalam sambutannya. Prof. Dr. Yeong Yik Sung juga menjelaskan mengenai beberapa proyek penelitian yang dilakukan di Institute of Marine Biotechnology UMT yang salah satunya adalah penelitian di bidang bahan alam (natural product) untuk mengembangkan produk pharmaceutical dan nutraceutical. Acara ini pun dilanjutkan dengan pemaparan isi materi seminar yang terbagi ke dalam tiga sesi.     

Gambar 1. Kegiatan webinar PUIN-PPB ITB

Pada sesi pertama Dr. Maria Immaculata Iwo, Apt (Sekolah Farmasi, ITB), memaparkan materi mengenai definisi dari nutraceutical. Nutraceutical merupakan makanan fungsional yang digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit, serta dapat dijumpai di pasaran dalam bentuk suplemen makanan dan produk olahan seperti sereal, sup, dan minuman. Produk nutraceutical terdiri dari beberapa jenis, yaitu (1) produk yang mengandung vitamin, mineral, asam amino, atau asam lemak, (2) produk herbal, dan (3) suplemen untuk diet yang mengandung probiotik, prebiotik, antioksidan, enzim, dan lainnya. Sebelum mengkonsumsi produk nutraceutical, perlu diketahui juga kandungan nutrisi dan bagaimana proses fisiologi dan biokimia terjadi di dalam tubuh untuk mengetahui keuntungan dan efek bahaya dalam tubuh yang berkaitan dengan interaksi antinutritive (anti mineral dan anti vitamin). Pengetahuan teknologi juga diperlukan untuk mengetahui bagaimana proses makanan diolah, food toxicity, food allergy, food intolerance, pharmacology effect, psychology effect, dan lainnya. Beliau juga mengharapkan untuk kedepannya akan ada regulasi untuk menjamin garansi dan keamanan bahwa produk nutraceutical yang dikonsumsi aman bagi tubuh, karena sebagian produk nutraceutical tidak mencantumkan label jaminan kesehatan akibat kurangnya proses quality control. Dalam sesi ini juga beliau menyampaikan beberapa contoh produk natural nutraceutical dan penggunaanya seperti bawang putih (Allium sativum) untuk menurunkan kolesterol, anti inflamasi, dan anti mutagenic, serta beberapa produk dari bahan alam lainnya. 

Pada sesi kedua, Prof. Dr. Fadzilah Adibah Abdul Majid (Institute of Marine Biotechnology, UMT) menjelaskan materi mengenai manfaat terapeutik obat herbal untuk penyakit non menular seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Salah satunya adalah produk Synacinn® yang mampu membantu untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah. Synacinn® ini merupakan obat herbal yang berasal dari bahan alami dan terstandarisasi yang mengandung senyawa aktif fitokimia seperti asam rosmarinat, kurkumin, andrographolide, asam galat, dan katekin. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam mengatasi resistensi sel terhadap insulin menunjukkan bahwa Synacinn® dapat menurunkan kadar glukosan tanpa mengakumulasi kelebihan lipid. Hal tersebut dapat terjadi karena Synacinn® mampu menghambat konversi pati menjadi gula dan mengurangi kenaikan kadar glukosa darah postprandial. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian terbaru, Synacinn® memiliki aktivitas antihiperglikemia yang efektif menurunkan kadar glukosa darah, trigliserida total, dan kolesterol, sehingga dapat dimasukkan sebagai obat alternatif dalam pengelolaan diabetes mellitus. 

Pada sesi ketiga, Bapak Andi Prazos, M.M. (Direktur Operasional dan Rantai Pasok, PT Kimia Farma, Tbk.) memaparkan materi dengan topik Nutraceutical: The Future is Now. Perkembangan dunia kesehatan dapat menjadi peluang bagaimana nutraceutical dapat masuk ke ekosistem pasar kesehatan, yang dalam pelaksanaannya perlu ada kerjasama dari sektor hulu ke hilir, dan bagaimana hasil penelitian yang dilakukan dapat diterima oleh pasar. Beliau juga menjelaskan bahwa asuransi adalah mitra yang baik untuk pengenalan produk nutraceutical ke masyarakat, dengan cara menumbuhkan kesadaran akan peduli kesehatan. Saat ini, penjualan suplemen dan produk nutraceutical belum dikelola dengan baik. Pasar di Indonesia hampir 45% masih didominasi dengan penjualan produk chemical padahal data di dunia 25% penjualan produk farmasi adalah obat herbal. Tren kesehatan global menunjukkan bahwa ada peningkatan dari non communical disease seperti kanker dan diabetes. Menurut epidemologi, dari tahun 2010-2015 terjadi peningkatan penyakit tidak menular dari 37% menjadi 57%. Hal ini dapat menjadi peluang untuk mengembangkan produk farmaceutical dari sisi biotechnology atau mengembangkan produk nutraceutical untuk memperbaiki gaya hidup para konsumen. Namun sebelum itu perlu dipelajari telebih dahulu target pasar, sehingga riset yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasar, karena diperkirakan tren di tahun 2030 adalah fokus kepada how to preventive and care after sickness yang ditunjang dengan gaya hidup yang lebih sehat. 

Acara ini diakhiri dengan sesi foto bersama (Gambar 2) dan tanya jawab antara para peserta dengan narasumbe, antusiasme peserta juga telihat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta seperti seputar kandungan bahan alam dan kaitannya dengan manfat maupun efeksamping yang dimilikinya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut, pertanyaan terkait kandungan nitrat pada tanaman Solanaceae yang berpotensi untuk menjadi senyawa antinutrisi; potensi tanaman porang untuk pengembangan produk nutraceutical, produk nutraceutical yang dikembangkan di Malaysia untuk pengganti gula, dan beberapa pertanyaan lainnya yang berkaitan seputar nutraceuticals

Gambar 2. Tangkapan layar sebagian dari peserta seminar daring pada platform Zoom

Leave a Comment